adf.ly

Tampilkan postingan dengan label ASKEP Jiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ASKEP Jiwa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Maret 2011

DETEKSI DINI DAN PENANGANAN “PROBLEMA KEMARAHAN”


Marah  adalah :
              Suatu perasaan jengkel yang timbul sebagai respon terhadap perasaan cemas yang dirasakan sebagai ancaman.

Tanda Marah meliputi :
1.     Emosi
-         Tidak aman
-         Rasa terganggu
-         Dendam
-         Jengkel

2.     Fisik :
-         Muka merah
-         Pandangan tajam
-         Nafas pendek
-         Keringat
-         Sakit fisik
-         Penyalahgunaan obat
-         Tekanan darah naik

3.     Spiritual :
-         Kemahakuasaan
-         Kebenaran diri
-         Keraguan
-         Tidak bermoral
-         Kebejatan
-         Kreativitas terhambat

4.     Intelektual :
-         Mendominasi
-         Bawel
-         Kasar
-         Berdebat
-         Meremehkan

5.     Sosial :
-         Menarik diri
-         Pengasingan
-         Penolakan
-         Kekerasan
-         Ejekan
-         Humor

Proses Terjadinya Marah

Cara Mengatasi Marah Ada 2 Cara Yaitu :
1.             Cara Umum
-         Melakukan kegiatan fisik ( Olahraga)
-         Mengurangi sumber marah ( Sikap keluarga yang lembut)
-         Mendorong klien mengungkapkan marah
-         Mememotivasi klien mengungkapkan marah yang kontruktif
-         Menganjurkan melakukan ibadah menurut kepercayaan masing-masing

2.                               Cara Khusus
-         Berteriak, menjerit, memukul ( Terima marah klien, arahkan klien memukul barang yang tidak rusak)
-         Bantu klien latihan relaksasi
-         Melakukan humor tanpa menyakiti orang lain
-         Observasi ekspresi humor yang menjadi sasaran

Cara  penyampaian      : Ceramah
Sasaran tersuluh          :  Keluarga penderita
Jumlah yang tersuluh  :   7 Orang
Lama penyuluhan        :  60 Menit
Kegiatan evaluasi         :
Pertanyaan
-         Apakah diluar rumah baik , dilingkungan rumah baik bisa mengakibatkan depresi
-         Apakah ketegangan turun bisa menimbulkan rasa bermusuhan.
-         Apakah masa dewasa muda ,tetapi sering bermain dengan usui yang lebih kecil bisa berakibta fatal.

7 orang yang hadir yaitu :

1.     Adi Prijono
2.     Sudiono
3.     Heru Dwi A
4.     Ade Dian Liz
5.     Kartini
6.     Tonny Subagio
7.     Setyawan

PERAN KELUARGA MENGHADAPI KLIEN YANG MENARIK DIRI

Masalah gangguan jiwa di Indonesia merupakan masalah yang sangat kompleks. Kurangnya pengetahuan tentang perawatan pasien jiwa, adanya cap yang buruk terhadap klien gangguan jiwa menjadikan penderita bertambah sensara, dimana keadaan ini dapat berakibat menarik diri sehingga tidak mau berinteraksi dengan lingkungan.

Menarik Diri  yaitu suatu keadaan dimana seseorang menarik diri dari dari sosial.

Ciri - ciri  orang  menarik diri :
1.     Cuek, sedih, dan ekspresi muka kosong
2.     Menghindar dari orang lain
3.     Komunikasi tidak kurang/kurang
4.     Sering menunduk dan kontak mata tidak ada
5.     Berdiam diri disuatu tempat dalam waktu lama
6.     Tidak mau melakukan kegiatan sehari- hari
7.     Nafsu makan kurang atau naik drastis
8.     Tidur melungker
9.     Sulit mengambil keputusan
10.Sikap mematung/cemas

Dalam menghadapi kondisi tersebut keluarga yang memiliki waktu kontak lebih banyak dengan klien hendaknya mampu melakukan tindakan , terlebih jika pasien sudah di rawat di rumah.

Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
1.     Upayakan membina hubungan saling percaya dengan klien
2.     Ajarkan klien berhubungan dengan orang lain
3.     Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya
4.     Dengarkan setiap keluhan klien
5.     Bantu klien dalam memenuhi nutrisinya
6.     Libatkan klien dalam setiap kegiatan aktivitas kelompok
7.     Puji atas keberhasilan klien
8.     Jaga agar lingkungan rumah tetap harmonis

Cara penyampaian    : Ceramah , Tanya jawab
Sasaran tersuluh        : Keluarga penderita
Jumlah yang disuluh  : 12 orang
Lama penyuluhan      : 60 Menit
Kegiatan evaluasi        :


Pertanyaan
-         Bisakah klien sakit jiwa terobsesi dengan spiritual
-         Apakah obat yang warnanya putih, biru, orange menimbulkan efek gemuk, dan jalan kecil-kecil
-         Penyebab gangguan jiwa
-         Penyembuhan klien sakit jiwa itu apakah sembuh dengan cara tradisional.

12 Orang yang hadir yaitu :

1.     Marjoko
2.     Ngatemo
3.     Adi Prijono
4.     Sudiono
5.     Hadi S
6.     Kusmiarto
7.     Agung
8.     Edy S
9.     Tudji
10.   Ibu Sudarma
11.  Dalimin
12. Sience

PENGARUH TINGKAT PENGETAHUAN ORANG TUA TENTANG DERAJAT DEHIDRASI PADA ANAK DIARE TERHADAP PERCEPATAN WAKTU DIBAWA KE RUMAH SAKIT DI RUANG MENULAR  ANAK RSUD DR SOETOMO SURABAYA



1.     Latar Belakang
               Diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama baik ditinjau dari segi kesakitan maupun kematian yang ditimbulkannya. Di Indonesia ditemukan penderita diare sekitar 60 juta kejadian diare setiap tahunnya dan 70-80 % dari penderita ini adalah anak balita ( 40 Juta), dari data tersebut diatas 1-2 % jatuh kedalam dehidrasi yang apabila tidak segera diatasi dengan pengobatan dan perawatan yang baik 50-60 % akan meninggal (350-500 anak balita setiap tahunnya, FKUI, 1994).
        Dari survai kesehatan Rumah Tangga tahun 1995 menunjukan bahwa kematian bayi akibat diare sebanyak 13 %, dan kematian anak usia 1-4 tahun sebanyak 5 %. Angka kejadian di tahun 1999 jumlah kasus 762 orang, urutan pada bayi sebanyak 573 kasus yang meninggal 14 orang, urutan anak umur 1-4 tahun sebanyak 189 kasus dari data Ruangan  Menular  RSUD DR SOETOMO.
          Menurut Batunahal P.P Gultum (1982) meskipun penyebab diare/dehidrasi telah diketahui tetapi ada beberapa faktor yang mempengaruhi salah satunya adalah kurangnya engetahuan orang tua tentang diare/dehidrasi, disamping faktor lain yaitu sosial ekonomi, sarana dan prasarana, tranportasi serta status  gizi yang menyebabkan keterlambatan membawa anaknya ke pelayanan kesehatan.
        Terkait dengan upaya pencegahan diare pengetahuan orang tua sangat penting untuk ditingkatkan terutama mengenai gejala awal diare. Salah satunya dengan cara penyuluhan, dan peampaian informasi melalui media massa. Agar  penyuluhan dapat efektif maka pelaksanaannya harus didasarkan pemahaman tentang ilmu, kepercayaan dan sosial budaya dimasyarakat. Pengetahuan yang dimiliki akan memberikan motivasi untuk mencari pertolongan dan pengobatan diluar rumah. Orang tua harus mengetahui bahwa ia harus segera membawa anaknya berobat jika anaknya tidak bertambah baik kondisinya.
        Dari uraian diatas bahwa pengetahuan orang tua  tentang derajat dehidrasi pada anak diare terhadap percepatan  di bawa masuk ke RS, sehingga diharapkan hasil riset ini dapat memberikan masukan kepada perawat khususnya dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien dan keluarga.

2.     Rumusan Masalah
                 Berdasarkan uraian dalam latar belakang maka dapat dirumuskan pertanyaan permasalahan penelitian sebagai berikut :
Apakah ada hubungan pengetahuan orang tua tentang derajat dehidrasi pada anak diare terhadap percepatan waktu di bawa ke RS.

3.     Tujuan
3.1  Tujuan Umum
Untuk mempelajari seberapa jauh pengetahuan orang tua tentang derajat dehidrasi pada anak diare terhadap percepatan waktu di bawa ke RS


3.2  Tujuan Khusus
3.2.1    Untuk mengidentifikasi pengetahuan orang tua tentang timbulnya dehidrasi pada anak diare.

4.     Manfaat Penelitian
4.1  Dapat melakukan usaha untuk meningkatkan pengetahuan orang tua tentang derajat dehidrasi, sehingga mereka tahu saat harus membawa anaknya ke RS.
4.2  Sebagai upaya untuk mencegah terjadinya komplikasi atau kematian akibat diar.
4.3  Membantu program-program yang berupaya mencegah dan menekan kejadian diare.


5.     Relevensi
           Tingginya angka kematian balita akibat diare disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya pengetahuan orang tua yang kurang tentang derajat dehidrasi, permasalahnnya tersebut sangat relevan dengan penelitian yang akan dilakukan. Dimana orang tua harus mengetahui tentang derajat dehidrasi, dan termotivasi untuk mencari pertolongan di luar rumah, karena akan membantu untuk mendeteksi secara dini timbulnya derajat dehidrasi. Penanganan yang cepat dan tepat terhadap diare akan menurunkan angka kematian dan kesakitan.


6.     Tinjauan Pustaka
                Tinjaun pustaka akan menguraikan mengenai konsep  pengetahuan, konsep diare, konsep dehidrasi, dan faktor yang mempengaruhi keterlambatan membawa anak ke RS.
6.1  Konsep Pengetahuan
                 Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek (Notoadmodjo, 1997). Dimana sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata, dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan faktor dominan yang penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.
           Menurut Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru, didalam diri orang tersebut  terjadi proses yang berurutan  yaitu :
a.     Awareness (kesadaran)
b.    Interest ( merasa tertarik ) terhadap stimulasi atau obyek tersebut.
c.      Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik atau tidaknya stimulas tersebut bagi dirinya.
d.    Trial, dimana subyek sudah melakukan sesuatu sesuai apa yang dikehendaki stimulus.
e.      Adoption, dimana subyek sudah telah berprilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulas.

             Dalam penelitian seslanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa perubahan prilaku tidak selalu melewatin tahap-tahap tersebut diatas. Apabila penerimaan prilaku melalui proses-proses tersebut, dimana didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap positif,maka prilaku tersebut akan langgeng, dan sebaliknya apabila tidak didasri oleh pengetahuan dan kesadaran tidak akan langgeng.

6.1.1    Tingkat Pengetahuan
                    Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu :
a.       Tahu, diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangkaian yang telah diterima.
b.      Memahami , diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara beanar.
c.        Aplikasi, diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi  yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil.
d.      Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lian.
e.        Sintesis, dimana menuju kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesa ini adalah kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang ada.
f.        Evaluasi, dimana evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penlian terhadap suatu obyek atau materi. Penilaian ini berdasarkan suatu kriteria yang telah ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang telah ada.

                Pengukuran pengetahuan ini dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin di ukur dari  subyek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui ata diukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan tersebut diatas. (dikutip dari Notoatmodjo, IKM 1997).


6.2  Konsep Diare

6.2.1    Pengertian Diare
Diare adalah keadaan frekuensi BAB lebih dari 4 kali pada bayi, dan lebih 3 kali pada anak dalam waktu 24 jam, konsistensi faeses encer/cair, dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah atau lendir saja. (Ngastiyah, 1997).
6.2.2    Macam diare
a.     Akut : terjadi mendadak dan berlangsung paling lama 3-5 hari.
b.    Berkepanjangan : berlangsung lebih dari 7 hari.
c.      Kronik : berlangsung lebih dari 14 hari.
6.2.3    Penyebab
Dibagi dalam beberapa faktor antara lain :
a.     Infeksi
b.    Malabsorpsi
c.      Makanan

6.2.4    Patogenesis
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare meliputi :
a.     Gangguan  Osmotik akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
b.      Gangguan sekresi, akibat rangsangan tertentu misalnya toxin pada dinding usus akan tearjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus terjadi peningkatan isi rongga usus.
c.      Gangguan motalitas usu, akibat hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare, sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh  berlebihan selanjutnya timbul diare pula. ( dikutip dari : Staf Pengajar IKA FKUI, 1988).

6.2.5    Sebagai akibat diare akut maupun kronis akan terjadi 
a.       Kehilangan air dan elektrolit yang dapat mengakibatkan gangguan keseimbangan asam basa. (Metabolik Acidosis).
b.      Hypoglikemimia.
c.        Gangguan status gizi.
d.      Gangguan sirkulasi.

6.2.6    Komplikasi
Akibat diare, kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak dapat terjadi beberapa hal yaitu :
a.     Dehidrasi ( Ringan , Sedang, Berat ).
b.    Renjatan Hipovolemik.
c.      Hipokalemi
d.    Hipoglikemi
e.      Intoleransi sekunder akibat kerusakan villi mukosa usus dan defisiensi enzim laktosa usus.  

6.3  Konsep Dehidrasi
6.3.1    Pengertian
Dehidrasi adalah ketidakseimbangan fisiologi cairan dan elektrolit yang disebabkan oleh kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar karena diare, muntah, keringat, dan lain- lain ( Dep. Kes. RI, 1990).

Berdasarkan gejala klinis ada 3 yaitu :
a.     Dehidrasi Ringan  ( kehilangan BB 5 %) gejala : tugor kulit menurun, fontanella cekung, mulut kering, sangat haus, oliguria jelas, mata sedikit cekung, penurunan tekanan intraokuler (Dikutip dari Gaarry Hambelton, 1995)
b.    Dehidrasi Sedang (kehilangan BB 6-9 % ) gejala : sangat haus, kulit kering, tidak elastis, mata sangat cowong , apatis, gelisah, tekanan intraokuler sangat menurun.
c.      Dehidrasi Berat (kehilangan BB > 10 % ) gejala : syndrom renjatan, vasokontriksi perifer, hipotensi sianosis, hiperpireksia, asidosis ( Dikutip dari Garry Hawbelton, 1995)

TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK SOSIALISASI & STIMULUS PERSEPSI

A.       DESKRIPSI

Manusia adalah mahluk sosial yang terus menerus membutuhkan orang lain disekitarnya. Salah satu kebutuhannya adalah kebutuhan sosial untuk melakukan interaksi sesama manusia. Kebutuhan sosial yang dimaksud adalah rasa dimiliki oleh orang lain, pengakuan dari orang lain, penghargaaan orang lain, serta pernyataan diri. Interaksi yang dilakukan tidak selamanya memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh individu sehingga mungkin terjadi suatu gangguan terhadap kemampuan individu untuk berinteraksi dengan orang lain.

Untuk mengatasi gangguan interaksi pada klien jiwa, therapi aktivitas kelompok sering diperlukan dalam praktek keperawatan kesehatan jiwa karena merupakan keterampilan therapeutik. Therapi aktivitas kelompok merupakan bagian dari therapi modalitas yang berupaya meningkatkan psikotherapi dengan sejumlah klien dalam waktu yang bersamaan.

Ada dua tujuan umum dari terapi aktivitas kelompok ini yaitu tujuan terapeutik dan tujuan rehabilitatif. Tujuan terapeutik meliputi : 1) Menggunakan kegiatan untuk memfasilitasi interaksi, 2) Mendorong sosialisasi dengan lingkungan (hubungan dengan luar diri klien), 3)Meningkatkan stimulus realitas dan respon individu, 4) Memotivasi dan mendorong fungsi kognitif dan afektif, 5) Meningkatkan rasa dimiliki, 6) Meningkatkan rasa percaya diri, 7)Belajar cara baru dalam menyelesaikan masalah.

Sedangkan tujuan rehabilitatif meliputi 
1) Meningkatkan kemampuan untuk ekpresi diri, 
2) Meningkatkan kemampuan empati, 
3) Meningkatkan keterampilan sosial, 
4) Meningkatkan pola penyelesaian masalah.

Beberapa aspek dari klien yang harus diperhatikan dalam penjaringan klien yang akan diberikan aktivitas kelompok adalah :
  1. Aspek emosi
Gelisah, curiga, merasa tidak berguna, tidak dicintai, tidak dihargai, tidak diperhatikan, merasa disisihkan, merasa terpencil, klien merasakan takut dan cemas, menyendiri, menghindar dari orang lain
  1. Aspek intelektual
Klien tidak ada inisiatif untuk memulai pembicaraan, jika ditanya klien menjawab seperlunya, jawaban klien sesuai dengan pertanyaan perawat
  1. Aspek sosial
Klien sudah dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat, klien mengatakan bersedia mengikuti therapi aktivitas, klien mau berinteraksi minimal dengan satu perawat lain ke satu klien lain

Therapi aktivitas kelompok sosialisasi dan stimulasi persepsi merupakan sebagian dari terapi aktifitas kelompok yang bisa dilaksanakan dalam praktek keperawatan jiwa. Terapi ini diharapkan dapat memacu klien untuk melakukan hubungan interpersonal yang adekuat dan mengidentifikasi secara benar stimulus persepsi eksternal.

B.       MASALAH KEPERAWATAN

Therapi aktivitas kelompok sosialisasi & stimulasi persepsi ditujukan pada klien dengan masalah keperawatan :
  1. Isolasi sosial : Menarik diri
  2. Harga diri rendah
  3. Gangguan persepsi sensori : Halusinasi

C.       TUJUAN

  1. Tujuan Umum
Klien mampu meningkatkan hubungan interpersonal antar anggota kelompok dan memotivasi proses pikir dan afektif

  1. Tujuan Khusus
-          Klien mampu mengidentifikasi dan mengklasifikasi stimulus eksternal yang diberikan melalui gambar
-          Klien mampu menyebutkan identitas dirinya
-          Klien mampu menyebutkan identitas klien lain
-          Klien mampu berespon terhadap klien lain dengan mendengarkan klien lain yang sedang berbicara
-          Klien mampu memberikan tanggapan pada pertanyaan yang diajukan
-          Klien mampu menterjemahkan perintah sesuai dengan permainan
-          Klien mampu mengikuti aturan main yang telah ditetapkan
-          Klien mampu mengemukakan pendapat mengenai therapi aktivitas kelompok yang dilakukan

D.       PERSIAPAN

  1. Analisa situasi meliputi : waktu pelaksanaan, jumlah perawat, pembagian tugas perawat, alat bantu yang dipakai dan persiapan ruangan
  2. Uraian tugas perawat (therapist)
a.       Leader dan Co-Leader bertugas menganalisa dan mengobservasi pola-pola komunikasi dalam kelompok, membantu anggota kelompok untuk menyadari dinamisasi kelompok, menjadi motivator, membantu kelompok untuk menetapkan tujuan dan membuat peraturan. Pemimpin dan anggota kelompok mendiskusikan apa yang harus dilakukan selanjutnya, memotivasi kesatuan kelompok dan membantu kelompok untuk berkembang dan bergerak secara dinamis
b.      Fasilitator bertugas memberikan stimulus kepada anggota kelompok lain agar dapat mengikuti jalannya kegiatan dalam kelompok
c.       Observer bertugas mencatat serta mengamati respon klien, jalannya aktivitas therapi, peserta yang aktif dan pasif dalam kelompok serta yang drop out (tidak dapat mengikuti kegiatan sampai selesai)
  1. Proses Seleksi
a.       Berdasarkan observasi prilaku sehari-hari klien yang dikelola oleh perawat
b.      Berdasarkan informasi dan diskusi mengenai prilaku klien sehari-hari serta kemungkinan dilakukan therapi kelompok pada klien tersebut dengan perawat ruangan
c.       Melakukan kontak pada klien untuk mengikuti aktivitas yang akan dilakukan
  1. Program antisipasi masalah
Suatu intervensi keperawatan yang dilakukan dalam mengantisipasi keadaan yang bersifat darurat atau emergensi yang dapat mempengaruhi proses pelaksanaan kegiatan therapi aktivitas kelompok.

E.       KEGIATAN

  1. Perkenalan
Kelompok perawat memperkenalkan identitas diri masing-masing dipimpin oleh leader. Leader menjelaskan peraturan kegiatan dalam kelompok.
  1. Kegiatan
Klien mencari pasangan yang tepat, melakukan perkenalan dengan pasangan, melakukan perkenalan di depan kelompok, melakukan perintah permainan dan memberikan jawaban atas pertanyaan dari kelompok.
  1. Evaluasi
Setelah mengikuti kegiatan klien dipersilahkan untuk mengemukakan perasaan dan pendapatnya tentang kegiatan
  1. Terminasi/Penutup
Leader menjelaskan kembali tujuan dan manfaat kegiatan, klien menyebutkan kembali tujuan dan manfaat kegiatan.

F.        KRITERIA EVALUASI

Presentasi jumlah klien yang mengikuti kegiatan sesuai dengan yang direncanakan :
-          80% klien mendapatkan pasangan yang tepat
-          90% dari jumlah klien mampu menyebutkan identitas dirinya
-          90% dari jumlah klien mampu menyebutkan identitas klien lain
-          80% dari jumlah klien mampu bersepon terhadap klien lain dengan mendengarkan klien lain yang sedang berbicara
-          80% dari jumlah klien mampu memberikan tanggapan pada pertanyaan yang diajukan
-          70% dari jumlah klien mampu menterjemahkan perintah permainan
-          70% dari jumlah klien mampu mengikuti aturan main yang telah ditentukan
-          50% dari jumlah klien mau mengemukakan pendapat tentang therapi aktifitas kelompok yang dilakukan

G.       RENCANA PELAKSANAAN

  1. Kriteria klien yang mengikuti terapi TAK di ruang Jiwa RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
-          Klien menarik diri yang sudah mulai berinteraksi dengan beberapa klien lain
-          Klien halusinasi yang sudah dapat mengontrol halusinasinya
  1. Peserta :

  1. Masalah Keperawatan
-          Menarik diri
-          Harga diri rendah
-          Halusinasi
  1. Persiapan
a.       Analisa Situasi
1). Waktu Pelaksanaan
     Hari/Tanggal               : Selasa, 2 Oktober 2002
      Waktu                         : Pk.08.00 – 10.00 WIB
      Alokasi Waktu            : Perkenalan dan pengarahan (5 menit)
                                            Permainan (35 menit)
  Ekpress feeling (15 menit)
  Penutup (5 menit)
2). Jumlah Perawat
      Mahasiswa PSIK        : 6 Orang
      Perawat Ruangan        : 1 Orang

3). Pembagian Tugas
      Leader                         : David A. Mandala
      Co-Leader                   : Siswanto
      Observer                      : Subhan
                                            R. Khoiriatul
      Fasilitator                    : Rahayu Budi Utami
Ridawati Sulaiman

4). Alat Bantu
      Tape Recorder & Kaset
      Gambar-gambar berpasangan
      Kotak kecil
      Balon dan kertas perintah
b.      Proses Pelaksanaan
1). Perkenalan
-          Kelompok perawat memperkenalkan diri, urutan ditunjuk oleh pembimbing untuk memulai menyebut nama, kemudian leader menjelaskan tujuan dan peraturan kegiatan dalam kelompok
-          Bila akan mengemukakan perasaannya klien diminta untuk lebih dulu menunjukkan tangannnya
-          Bila klien ingin keluar untuk minum, BAB/BAK harus minta ijin pada perawat
-          Pada akhir perkenalan pemimpin mengevaluasi kemampuan identifikasi terhadap perawat dengan menanyakan nama perawat yang ditunjuk oleh leader
2). Permainan
-          Klien yang telah diseleksi dikumpulkan di tempat yang cukup luas dan duduk membentuk lingkaran
-          Leader memberikan lembaran kertas yang bergambar pasangan dari alat-yang setiap hari digunakan : piring dengan sendok, sapu dengan tempat sampah, pensil dengan buku, sepatu dengan kaus kaki, meja dengan kursi, dan membagikan pada setiap peserta secara acak.
-          Selanjutnya peserta mencari pasangannya yang sesuai dengan gambar yang dipegang. Selanjutnya berkenalan dan menanyakan identitas selengkapnya : nama, alamat, hobby, yang disukai tentang dirinya, serta ketrampilan yang dimiliki.
-          Selanjutnya masing-masing peserta menerangkan pada kelompok identitas dirinya dan pasangannya selengkap-lengkapnya.
-          Kemudian  co leader memutar kaset lagu dangdut untuk berjoget bersama masing-masing pasangan dengan berpegangan tangan. Musik dihentikan selanjutnya masing-masing pasangan meledakkan balon untuk mencari kegiatan yang dituliskan pada kertas didalam balon. Setelah kertas perintah dibaca, masing-masing pasangan melakukan kegiatan yang diminta.
-          Setelah selesai, Leader, Co leader dan motifator memotivasi klien lain untuk menanyakan sesuatu kepada klien yang sedang didepan. Kemudian klien yang didepan menjawab pertanyaan tersebut, setelah klien menjawab pertanyaan perawat memberikan reinforcement positip dan memperjelas apa yang dibicarakan /dijawab oleh klien. Kemudian dilemparkan kepada klien lagi sehingga klien memiliki persepsi yang positip/baik tanpa dipengaruhi oleh perawat.
-          Kemudian dilanjutkan dengan pasangan berikutnya dengan cara yang sama
-          Selama kegiatan berlangsung observer mengamati jalannya acara .
3). Peer Review (Evaluasi Kelompok)
-          Klien dapat mengemukakan perasaannya setelah memperkenalkan dirinya
-          Klien mengemukakan perasaannya setelah disapa oleh klien lain dengan menyebut nama
-          Klien mengemukakan pendapat tentang kegiatan ini
4).Terminasi
-          Klien dapat menyebutkan kembali tujuan kegiatan
-          Leader menjelaskan kembali tentang tujuan  dan manfaat dari kegiatan kelompok ini
  1. Antisipasi Masalah
a.       Penanganan klien yang tidak aktif saat aktifitas kelompok
-          Memanggil klien
-          Memberi kesempatan kepada klien tersebut untuk menjawab sapaan perawat atau klien yang lain
b.      Bila klien meninggalkan permainan tanpa pamit :
-          Panggil nama klien
-          Tanya alasan klien meninggalkan permainan
-          Berikan penjelasan tentang tujuan permainan dan berikan penjelasan pada klien bahwa klien dapat melaksanakan keperluannya setelah itu klien boleh kembali lagi

c.       Bila ada klien lain ingin ikut
-          Berikan penjelasan bahwa permainan ini ditujukan pada klien yang telah dipilih
-          Katakan pada klien lain bahwa ada permainan lain yang mungkin dapat diikuti oleh klien tersebut
-          Jika klien memaksa, beri kesempatan untuk masuk dengan tidak memberi peran pada permainan tersebut

DAFTAR PUSTAKA

Herawaty, Netty, Materi Kuliah Terapi Aktivitas Kelompok, FIK Jakarta 1999

Gail Wiscart Stuart, Sandra J. Sundeen, Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi 3, EGC, Jakarta 1995

Pelaksanaan TAK

Tanggal                       : 9 Mei 1997  pukul  10.00- 11.00 .
Tempat                        : Ruang Perawatan Melati.
Jumlah peserta             : 10 Orang dengan masalah GHS : Menarik diri.
Metode                        : Bermain dan bernyanyi bersama.

Pembagian tugas anggota       : Leader           : David A. Mandala.
                                                : Co leader       : Siswanto
                                                : Motifator       : Subhan.
                                                                        : R. Khoiriatul.
                                                                        : Rahayu Budi Utami.
                                                : Observer        : Ridawati Sulaiman.

Jalannya Acara :
1.    FASE PERKENALAN.
Mengumpulkan anggota diruang Perawatan Melati.
Perawat melakukan kontrak ulang untuk mengikuti  TAK, perawat berhasil mengumpulkan sepuluh orang klien sesuai dengan rencana semula.
Leader memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan kegiatan TAK kepada klien kemudian co leader menjelaskan aturan permainan.

2.  FASE KERJA
Leadermemberikan lembaran kertas yang bergambar pasangan dari alat-yang setiap hari digunakan : piring dengan sendok, sapu dengan tempat sampah, pensil dengan buku, sepatu dengan kaus kaki, meja dengan kursi, dan membagikan pada setiap peserta secara acak, selanjutnya peserta mencari pasangannya yang sesuai dengan gambar yang dipegang. Selanjutnya berkenalan dan menanyakan identitas selengkapnya : Nama, alamat, hobby, yang disukai tentang dirinya, serta ketrampilan yang dimiliki. Selanjutnya masing-masing peserta menerangkan pada kelompok identitas dirinya dan pasangannya selengkap-lengkapnya. Kemudian  co leader memutar kaset lagu dangdut untuk berjoget bersama masing-masing pasangan dengan berpegangan tangan. Musik dihentikan selanjutnya masing-masing pasangan harus menampilkan suatu ketrampilan didepa kelompok. Co leader menyiapkan gitar, dan masing-masing pasangan menyanyikan lagu dengan diiringi gitar. Setelah berhenti menyanyi Leader , Co leader dan motifator memotifasi klien lain untuk menanyakan sesuatu kepada klien yang sedang didepan. Kemudian klien yang didepan menjawab pertanyaan tersebut , setelah klien menjawab pertanyaan dan selesai bernyanyi perawat memberikan reinforcement positip dan memperjelas apa yang dibicarakan /dijawab oleh klien. Kemudian dilemparkan kepada klien lagi ,sehingga klien memiliki persepsi yang positip / baik tampa dipengaruhi oleh perawat. Selama kegiatan berlangsung observer mengamati jalanya acara .

3.    FASE TERMINASI.
Melakukan sharing perasaan antara klien dan perawat tentang terapi aktifitas kelompok yang dilakukan.
Klien : Merasa senang karena tidak melamun ,dapat mengurangi setress, terjalin keakraban,tidak membosankan,mengisi waktu luang dan klien menanyakan kapan ada acara seperti ini lagi.?
Perawat : Merasa senang karena klien dapat kooperatif mengikuti kegiatan TAK. Merasa dibutuhkan oleh klien.
Melakukan evaluasi :
a. Proses
90 % klien berpartisipasi aktif.
90 % Klien dapat memberikan respon verbal dan non verbal yang sesuai dengan Stimulus external.
90 % Klien mampu bekerja sama dalam kelompok.
100 %Klien mengikuti kegiatan TAK sampai dengan selesai.
b. Hasil
90 % Klien mampu memperkenalkan diri /menyebutkan nama,alamt serta mampu menjawab pertanyaan yang  diajukan oleh klien lain.
80 % Klien mampu menyanyikan sebuah lagu.
50 % Klien mampu mengungkapkan manfaat kegiatan TAK.
Terakhir leader menyimpulkan manfaat seluruh kegiatan dan memotifasi kepada klien untuk melakukan kegiatan serupa/yang lain bersama klien lain.